China Getol Buang Dolar, ‘Followers-nya’ Kini Makin Banyak!

Presiden China Xi Jinping mengambil sumpah setelah terpilih kembali sebagai presiden untuk masa jabatan ketiga selama sesi pleno ketiga Kongres Rakyat Nasional (NPC) di Balai Besar Rakyat di Beijing pada 10 Maret 2023. (AFP via Getty Images/NOEL CELIS)

 Dalam beberapa tahun terakhir, China bisa dikatakan menjadi negara yang paling getol mengurangi ketergantungan terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Pasca pecahnya perang Rusia – Ukraina, semakin banyak negara yang mulai mengurangi ketergantungannya terhadap the green back.

Langkah terbaru yang dilakukan China yakni dengan menggunakan yuan dalam perdagangan liquefied natural gas (LNG). Ini menjadi yang pertama dalam sejarah China mengimpor LNG dan pembayarannya yang biasanya menggunakan dolar AS berubah menjadi yuan.

Reuters melaporkan perusahaan raksasa migas China, CNOOC dan TotalEnergies menyelesaikan transaksi perdagangan LNG dengan mata uang yuan. China dilaporkan mengimpor sekitar 65.000 ton LNG dari Uni Emirat Arab (UEA).

Upaya perdagangan dengan yuan sudah dilakukan dalam beberapa tahun terakhir untuk memperkuat penetrasi mata uang tersebut ke pasar global, sekaligus mengurangi penggunaan dolar AS.

Aksi buang dolar AS China sepanjang tahun lalu juga terlihat dari kepemilikan Treasury AS yang terus menurun.

Berdasarkan data dari Treasury International Capital (TIC) Kementerian Keuangan AS, pada November 2022, China menjual US$ 7,8 miliar Treasury yang dimiliki sehingga kini menjadi US$ 870 miliar. Nilai kepemilikan surat utang Amerika Serikat tersebut menjadi yang terendah sejak Juni 2010.

Penjualan tersebut dilakukan nyaris sepanjang tahun lalu, sebelum sebelumnya Treasury yang dijual sebesar US$ 24 miliar. Pada Juli 2022 lalu, untuk pertama kalinya dalam 12 tahun terakhir kepemilikan Treasury China turun ke bawah US$ 1 triliun.

Aksi jual tersebut dimulai sejak 2017, ketika adanya perang dagang melawan Amerika Serikat. Sanksi yang diberikan Amerika Serikat dan Eropa kepada Rusia yang memulai perang di Ukraina semakin menguatkan niat China untuk mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS.

Aksi “buang” dolar AS tersebut semakin banyak diikuti oleh negara-negara lainnya. Banyak negara kini mulai menggunakan mata uang lokal untuk perdagangan bilateral.

UEA kini semakin dekat dengan India untuk menggunakan mata uang lokal rupee dan dirham sebagai pembayaran perdagangan non-minyak mentah.

Media berbahasa Inggris di India, Financial Express melaporkan, kedua negara kemungkinan akan segera mengumumkan kesepakatan penggunaan mata uang lokal tersebut.

Sebelum UEA, sudah ada 18 negara yang sepakat dan bisa menggunakan rupee sebagai alat pembayaran. German dan Inggris menjadi negara besar Eropa yang bisa bisa menggunakan rupee, dari Asia ada Singapura dan Malaysia. Rusia juga termasuk di dalamnya.

Selain itu, seluruh negara anggota ASEAN sepakat untuk ‘buang’ dolar Amerika Serikat (AS), yaitu dengan melakukan kerja sama transaksi pembayaran lintas batas dengan menggunakan mata uang lokal atau disebut dengan local currency transaction (LCT).

Hal ini disampaikan Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo usai menghadiri pertemuan Menteri Keuangan dan Gubernur Bank Sentral ASEAN di Bali pada akhir pekan lalu.

“ASEAN sepakat untuk menegaskan kembali ketahanan, di antara lain dengan penggunaan mata uang lokal untuk mendukung perdagangan dan investasi lintas batas di kawasan ASEAN,” ujarnya.

Indonesia sejak 2018 juga sudah mulai menggunakan mata uang lokal atau local currency settlement (LCS) untuk transaksi bilateral. LCS pertama kali dilakukan dengan Thailand dan Malaysia pada 2018.

Selanjutnya, pada Agustus 2020 kerja sama serupa juga telah diimplementasikan dengan Jepang. Kemudian pada tanggal 6 September 2021, kerja sama LCS ini juga sudah efektif diimplementasikan dengan Tiongkok atau China.

Data Bank Indonesia menyebutkan transaksi LCS menunjukkan peningkatan yang signifikan sejak diimplementasikan.

Sepanjang tahun 2022, transaksi LCS mencapai US$ 3,8 miliar, lebih tinggi dibandingkan dengan total transaksi LCS selama 2021 yang mencapai US$ 2,53 miliar, meningkat tiga kali lipat dibandingkan dengan 2020 sebesar US$ 797 juta.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*