Didamaikan China, Raja Salman Ajak ‘Musuh Bebuyutan’ ke Saudi

Raja Arab Saudi Salman bin Abdulaziz bertemu dengan Presiden China, Xi Jinping (tidak terlihat) di Istana Yamamah di Riyadh, Arab Saudi pada 08 Desember 2022. Presiden China Jinping berada di Arab Saudi untuk menghadiri KTT Negara-negara China-Arab dan Konferensi Tingkat Tinggi KTT Dewan Kerjasama Teluk-China (GCC). (File Foto - Royal Court of Saudi Arabia/Anadolu Agency via Getty Images)

Hubungan antara Arab Saudi dan Iran terus mengalami pemulihan. Hal ini terjadi setelah keduanya sepakat untuk membuka kembali hubungan diplomatik dengan mediasi China.

Terbaru, Raja Arab Saudi, Salman Bin Abdulaziz Al Saud, mengundang Presiden Iran Ebrahim Raisi untuk dapat berkunjung ke negaranya. Hal ini diungkapkan oleh Wakil Kepala Staf Presiden Iran untuk urusan politik, Mohammad Jamshidi, Minggu (19/3/2023).

“Dalam sepucuk surat kepada Presiden Raisi … Raja Arab Saudi menyambut baik kesepakatan antara kedua negara bersaudara (dan) mengundangnya ke Riyadh,” ujarnya dalam akun Twitter resmi seraya menambahkan Presiden Raisi ‘menerima undangan tersebut dengan baik’.

Sebelumnya, Riyadh memutuskan hubungan dengan Teheran setelah pengunjuk rasa Iran menyerang misi diplomatik Saudi pada tahun 2016. Saat itu, demonstran memprotes kebijakan Saudi yang mengeksekusi ulama Syiah Nimr al-Nimr.

Selain itu, keduanya bersitegang terkait perang di Yaman. Saudi merupakan pemimpin koalisi militer yang ingin mengalahkan kelompok Houthi sokongan Iran di negara itu.

Sementara itu, kesepakatan damai keduanya muncul saat perwakilan kedua negara bertemu di Beijing, China, pada Jumat, 10 Maret lalu. Terlihat foto yang menunjukan Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran Ali Shamkhani berjabat tangan dengan penasihat keamanan nasional Saudi Musaad bin Mohammed Al Aiban.

Terlihat juga diplomat paling senior China, Wang Yi, berdiri di antara mereka. Diketahui, Beijing merupakan inisiator perdamaian ini.

Wang mengatakan bahwa China akan terus memainkan peran konstruktif dalam menangani masalah hotspot dan menunjukkan tanggung jawab sebagai negara besar. Ia menambahkan bahwa China sebagai mediator yang beritikad baik dan dapat diandalkan, telah memenuhi pekerjaannya sebagai tuan rumah dialog.

Beberapa analis mengatakan bahwa ini merupakan bukti semakin kuatnya China pada arena politik global, mengalahkan rivalnya, Amerika Serikat (AS).

Mantan pejabat senior AS dan PBB Jeffrey Feltman mengatakan peran China, daripada pembukaan kembali kedutaan setelah enam tahun di Riyadh dan Teheran, adalah aspek paling signifikan dari perjanjian tersebut.

“Ini akan ditafsirkan, mungkin secara akurat , sebagai tamparan pada pemerintahan Biden dan sebagai bukti bahwa China adalah kekuatan yang sedang naik daun,” kata Feltman, yang juga seorang peneliti di Brookings Institution, kepada¬†Reuters.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*