Gak Kira-kira, Harga Batu Bara Terbang 5,31% Pekan Ini

Industri pertambangan merupakan dunia kerja yang identik dengan karakter maskulin dan secara alamiah pekerjanya lebih cocok untuk kaum laki-laki. (CNBC Indonesia/Tri Susilo)

Harga komoditas batu bara acuan mampu mencatatkan kinerja positif pekan ini. Dalam sepekan, harganya melesat 5,31% secara point to point/ptp,  namun masih berada di jurang koreksi sebesar 47,83% secara tahunan.

Penopang harga batu bara pekan ini adalah kenaikan signifikan harga sang emas hitam yang terjadi di awal pekan yakni sebesar 9,84% ke US$ 212,65 per ton pada perdagangan Senin (3/4/2023). Harga tersebut adalah yang tertinggi sejak 8 Februari 2023 atau hampir sebulan terakhir.

Sayangnya, sehari setelahnya harganya berbalik arah terkoreksi 3,47%.

Dalam sepekan harga batu bara tercatat 2 kali menguat yakni pada perdagangan Senin dan Rabu. Kemudian harganya juga 2 kali mengalami koreksi pada perdagangan Selasa dan Kamis jelang akhir pekan yang panjang.

Meski demikian, Harga tersebut membawa batu bara kembali ke level US$ 200 untuk pertama kalinya sejak 24 Februari 2023.

Lonjakan harga batu bara ditopang oleh meningkatnya permintaan, kenaikan harga gas, serta keputusan Arab Saudi dan anggota OPEC yang memangkas produksi minyak mentah.

Lonjakan permintaan kini tidak hanya datang dari Asia seperti India dan China tetapi juga Eropa.Harga batu bara di pasar Eropa naik ke level tertingginya dalam lima bulan pada Senin di tengah naiknya permintaan

Dikutip dariReuters, impor batu bara China memang diperkirakan akan menembus 26,82 juta ton pada Maret 2023, tertinggi sejak Januari 2017. Jumlah tersebut melonjak 41% dibandingkan bulan sebelumnya dan melesat 70% dibandingkan Maret 2022.

Impor China sebenarnya masih tanda tanya. Banyak yang memperkirakan laju kencang impor tidak akan bertahan lama. Salah satunya adalah karena industri baja Tiongkok belum bergerak cepat.

Dibukanya kembali kran impor dari Australia semula diharapkan bisa melambungkan permintaan.

Namun, belum kencangnya aktivitas industri baja serta kekhawatiran eksportir membuat impor dari Australia sedikit tertahan.Yang Jie, Analis YiMei Net, mengatakan optimism mengenai besarnya impor Australia belum terasa.

Menurutnya, importir masih khawatir jika hubungan China-Australia bisa memburuk lagi di masa depan sehingga impor dibatasi.

Sebagai catatan, China menghentikan impor batu bara dari Australia pada Oktober 2020 setelah Australia menuding China dibalik wabah pandemi Covid-19.

Jumlah batu bara Australia yang sudah mendarat di China mencapai 3,1 juta ton pada Januari-Maret 2023 sementara yang masih dalam perjalanan sebanyak 2,8 juta ton.

Namun ada sentimen negatif pekan ini yang menyebabkan ikut terseretnya harga batu bara yakni berbalik arahnya proyeksi cuaca di Eropa. Batu bara adalah sumber energi alternatif bagi gas sehingga harganya saling mempengaruhi.

Suhu di Eropa diproyeksi tidak akan seburuk pada prakiraan sebelumnya, Sejumlah wilayah Eropa akan lebih hangat.

Sebelumnya, prakiraan cuaca menyebutkan suhu di sebagian Eropa akan lebih dingin setidaknya hingga akhir pekan ini. Suhu di Jerman dan Eropa tengah akan berada di kisaran 3-7 derajat Celcius. Suhu tersebut di bawah rata-rata tahunannya.

Dengan suhu yang lebih hangat maka penggunaan listrik, termasuk dari batu bara dan gas akan berkurang sehingga permintaan melandai.Terlebih,pasokan batu bara di pelabuhan utama Eropa ada dalam posisi tertinggi nya dalam sebulan terakhir.

Melandainya harga batu bara juga dipengaruhi kepastian impor China. Dikutip dariReuters,impor batu bara China memang diperkirakan akan menembus 26,82 juta ton pada Maret 2023, tertinggi sejak Januari 2017.

Jumlah tersebut melonjak 41% dibandingkan bulan sebelumnya dan melesat 70% dibandingkan Maret 2022.

Impor China sebenarnya masih tanda tanya. Banyak yang memperkirakan laju kencang impor tidak akan bertahan lama. Salah satunya adalah karena industri baja Tiongkok belum bergerak cepat.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*