Ini Penyebab Rupiah Menguat 4 Pekan Beruntun, Terbaik di Asia

Pekerja pusat penukaran mata uang asing menghitung uang Dollar AS di gerai penukaran mata uang asing Dolarindo di Melawai, Jakarta, Senin (4/7/2022). (CNBC Indonesia/ Muhammad Sabki)

 Rupiah melanjutkan kinerja impresifnya melawan dolar Amerika Serikat (AS) pekan ini. Melansir data Refinitiv, rupiah tercatat menguat 0,53% ke Rp 14.910/US$. Rupiah kini sudah menguat 4 pekan beruntun dengan total 3,5%.

Tidak hanya itu, rupiah juga menjadi mata uang terbaik Asia sepanjang tahun ini dengan penguatan 4,4%, dan menjadi yang terbaik ke-enam di dunia.

Rupiah mulai menguat setelah Silicon Valley Bank (SVB) kolaps di Amerika Serikat, hal ini membuat The Fed diprediksi tidak agresif lagi dalam menaikkan suku bunga.

Tanda-tanda perekonomian AS merosot semakin terlihat. Institute for Supply Management (ISM) melaporkan kontraksi sektor manufaktur semakin dalam pada Maret. Purchasing Managers’ Index (PMI) dilaporkan sebesar 46,3, sudah mengalami kontraksi (di bawah 50) selama 5 bulan beruntun dan berada di level terendah sejak Mei 2020.

Pasca rilis data tersebut, indeks dolar AS yang sebelumnya menguat langsung berbalik turun.

Namun, di sisi lain inflasi berdasarkan personal consumption expenditure (PCE) yang sulit turun membuat pasar kembali memprediksi bank sentral AS (The Fed) akan kembali menaikkan suku bunga pada Mei.

Hal ini terlihat dari perangkat FedWatch yang menunjukkan adanya probabilitas sebesar 54,8% suku bunga akan dinaikkan sebesar 25 basis poin menjadi 5% – 5.25%.

Sementara itu dari dalam negeri, Badan Pusat Statistik (BPS) di awal pekan ini melaporkan inflasi Maret 2023 yang bertepatan dengan Ramadan kali ini terpantau lebih rendah dalam dua tahun terakhir. Hal ini dimungkinkan karena turunnya inflasi harga bergejolak pada bulan Maret lalu.

Inflasi pada Maret 2023 mencapai 0,18% (month-to-month/mtm), lebih rendah dibandingkan 0,40% pada 2022 dan 0,32% pada 2021.

Jika dilihat secara tahunan, inflasi Maret sebesar 4,97% (yoy) lebih rendah dari inflasi Ramadan tahun 2022 yang mencapai 5,47%.

Inflasi bulan lalu juga lebih rendah dari konsensus pasar yang dihimpun CNBC Indonesia dari 12 institusi memperkirakan inflasi Maret 2023 akan menembus 0,29% dibandingkan (mtm), dan 5,15% (yoy)

Dari catatan BPS, inflasi inti secara tahunan terus mengalami penurunan. Inflasi inti per Maret 2023 mencapai 2,94% dari bulan sebelumnya 3,09%.

Inflasi yang rendah menjadi kabar baik, daya beli masyarakat akan lebih kuat, dan bisa membuat roda perekonomian lebih kencang.

Hal ini tentunya memberikan sentimen positif bagi rupiah.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*