Koreksi 3 Hari Beruntun, Harga CPO Masih Naik Pekan Ini

Pekerja mengangkut kelapa sawit kedalam jip di Perkebunan sawit di kawasan Candali Bogor, Jawa Barat, Senin (13/9/2021). (CNBC Indonesia/Andrean Kristianto)

Harga minyak kelapa sawit (Crude Palm Oil/CPO) di Bursa Malaysia Excahnge terpantau mampu mencatat kinerja cemerlang pekan ini dipicu oleh serangkaian sentimen positif sejak awal pekan.

Sepekan terakhir, harga CPO mampu menguat 0,88% secara point-to-point/ptp. Sementara, secara bulanan harga CPO juga naik 0,88%, namun sayangnya masih mengalami koreksi 9,1% secara tahunan meskipun dengan penguatan ini perlemahan menjadi terpangkas.

Melansir Refinitiv, sepanjang pekan ini harga CPO tercatat 2 kali menguat yakni pada perdagangan Senin (3/4/2023) dengan penguatan tajam 3,27%. Kemudian hari berikutnya, CPO melanjutkan relinya menutup perdagangan dengan penguatan 2,11%.

Penopang harga CPO pekan ini memang kenaikan signifikan di awal pekan yang totalnya mencapai 5,38% dalam 2 hari perdagangan. Dengan ini membawa harga CPO ke MYR 3.966 per ton pada perdagangan Selasa (4/4/2023).

Sentimen penopang harga di awal pekan adalah kabar bahwa Malaysia telah menandatangani nota kesepahaman dengan asosiasi perdagangan yang didukung pemerintah China untuk meningkatkan perdagangan dan kerja sama minyak sawit.

Dewan Minyak Sawit Malaysia mengatakan kemitraannya dengan Kamar Dagang Impor dan Ekspor China untuk Bahan Makanan, Produk Asli dan Produk Sampingan Hewan akan membantu Malaysia mendapatkan kembali pangsa pasar di negara terpadat di dunia.

Malaysia, produsen kelapa sawit terbesar kedua di dunia, dan China, pembeli terbesar kedua di dunia, akan bersama-sama mempromosikan penggunaan minyak sawit berkelanjutan Malaysia di China.

Mereka juga sepakat untuk menciptakandesain dan implementasi teknologi baru seperti kecerdasan buatan di kelapa sawit dan perkebunan.

Perjanjian tersebut akan memfasilitasi partisipasi China dalam eksplorasi teknologi dalam mekanisasi kelapa sawit di Malaysia.

Hal itu akan membantu meningkatkan produktivitas dan mengurangi ketergantungan pada tenaga kerja manusia di perkebunan.

Untuk diketahui, pada 2022, Malaysia mengekspor 3,14 juta ton minyak sawit dan produk sawit ke China, menjadikan China sebagai mitra dagang terpenting untuk minyak nabati setelah India.

Namun, sayangnya penguatan CPO harus ditutup koreksi 3 hari beruntun pekan ini. Meskipun sempat mengalami koreksi, kinerja CPO masih positif dan membawa harganya ke zona 3.800-an setelah sempat jatuh ke 3.500 pada 24 Maret lalu.

Turunnya harga CPO dipicu oleh sentimen negatif dari produksi CPO. Asosiasi Minyak Sawit Malaysia memperkirakan produksi untuk periode Maret naik 2,27% dari bulan sebelumnya.

Kendati terseret sentimen negatif, namun ada angin segar dari perkiraan persediaannya yang membuat harganya tidak jatuh terlalu dalam.

Berdasarkan survei Reuters pada Rabu (5/4/2023) memperkirakan persediaan minyak sawit Malaysia pada akhir Maret telah anjlok 16,3% dari bulan sebelumnya menjadi 1,77 juta ton, level terendah dalam delapan bulan.

Dari dalam negeri, Indonesia diperkirakan akan lebih gencar melakukan penjualan setelah Ramaan ini mengingat saat ini ekspor lebih rendah dari biasanya.

“Pasar kelapa sawit tidak terlihat bullish dalam waktu dekat, karena Indonesia diperkirakan akan agresif dalam penjualan setelah Ramadhan karena rendahnya ekspor saat ini,” kata Mitesh Saiya, manajer perdagangan di perusahaan perdagangan Kantilal Laxmichand & Co yang berbasis di Mumbai yang dikutip dari Reuters.

Di sisi lain, tuntunnya hagra CPO dipicu oleh harga minyak saingannya yakni minyak nabati. Harga Soyoil di Chicago Board of Trade BOcv1 turun 0,2%, kerugian harian ketiga berturut-turut. Kontrak soyoil teraktif Dalian DBYcv1 turun 0,6%, sementara kontrak minyak sawit DCPcv1 turun 0,5%.

Minyak kelapa sawit dipengaruhi oleh pergerakan harga minyak terkait karena mereka bersaing untuk mendapat bagian di pasar minyak nabati global.

“Permintaan dari India dan China masih kurang dan minyak bunga matahari Ukraina telah merebut pangsa pasar,” kata Mitesh Saiya.

Sementara itu, berdasarkan kabar dari Pemerintah Argentina, akan ada rencana untuk meningkatkan cadangan devisanya dengan meningkatkan ekspor kedelai akan mulai berlaku pada Sabtu hingga 24 Mei mendatang.

Rencana ini yang diluncurkan ini bertujuan untuk meningkatkan penjualan dan ekspor kedelai dan produk sampingannya dengan menawarkan kepada produsen nilai tukar yang lebih tinggi dari nilai resmi 210 peso per dolar. Ini memberi lebih banyak tekanan pada pasar.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*