Negara Muslim Ini Mau Kolaps, Inflasi Tinggi-Warga Bunuh Diri

Pendukung mantan Perdana Menteri Pakistan Imran Khan, bereaksi ketika mereka memblokir jalan selama bentrokan, menjelang kemungkinan penangkapan Khan di luar rumahnya, di Lahore, Pakistan 14 Maret 2023. (REUTERS/Mohsin Raza)

Krisis ekonomi di Pakistan belum menunjukan tanda-tanda mereda. Hal ini terjadi meski negara itu telah berdiskusi untuk bantuan pendanaan dari Dana Moneter Internasional (IMF).

Pada Februari 2023, Biro Statistik Pakistan mengatakan inflasi negara itu menembus 31,6% secara year-on-year (yoy). Ini merupakan laju tercepat yang pernah ada dalam sejarah Pakistan.

Selain itu, nilai tukar rupee Pakistan juga anjlok setelah IMF meminta agar Islamabad meliberalisasi nilai tukar. Ini sebagai salah satu syarat agar Pakistan dapat memperoleh bantuan keuangan dari lembaga itu.

Pelemahan rupee ini mulai mengguncang kepercayaan investor terhadap negara itu, dengan pabrikan mobil Jepang Honda menjadi yang terbaru menghentikan operasionalnya di negara itu dan memicu pengangguran.

Situasi ini kemudian menimbulkan permasalahan di masyarakat. Media India Mint dan kantor berita Pakistan Dawn melaporkan adanya sebuah keluarga di kota Surjani yang mencoba menghentikan kehidupannya akibat lonjakan harga ini.

“Polisi menginformasikan bahwa pria tersebut bersama tiga anggota keluarganya mencoba bunuh diri dengan mengonsumsi zat beracun yang diduga akibat meningkatnya inflasi. Sayangnya, situasi tersebut merenggut nyawa anak berusia dua tahun itu,” lapor Dawn dikutip Senin, (20/3/2023).

Ahli Bedah Polisi Karachi Summaiya Syed Tariq mengatakan kepada Dawn bahwa dia menerima jenazah seorang gadis kecil, ayahnya, dan ibunya bersama saudara perempuannya dalam situasi kritis.

“Penyebab diberikan sebagai pengangguran dan ketidakmampuan untuk memenuhi kebutuhan. Ini adalah di tengah-tengah Karachi. Kota Surjani dan jika benar, berbicara teriakan apatis kolektif kita. Bahkan tidak bisa membayangkan ketidakberdayaan sebuah keluarga yang mencari perlindungan dalam kematian,” jelasnya.

Pakistan telah mengalami krisis ekonomi hebat sejak tahun 2022 lalu. Selain melonjaknya utang dan anjloknya nilai tukar, negara itu juga dilanda inflasi tinggi dan juga kekurangan devisa.

IMF pun tahun lalu telah mencairkan dana talangan sebesar US$ 6 miliar (Rp 90 triliun) pada 2019, yang ditambah lagi dengan US$ 1 miliar (Rp 15 triliun) tahun lalu pada Pakistan. Namun pemberi pinjaman itu kemudian menghentikan pencairan pada bulan November karena kegagalan Pakistan untuk membuat lebih banyak kemajuan dalam konsolidasi fiskal dan reformasi ekonomi.

Dalam sejarahnya, Pakistan juga telah menjadi salah satu nasabah loyal IMF, dengan Islamabad telah 23 kali menjadi pasien lembaga keuangan itu sejak merdeka pada 1947.

Meski telah berulang kali menjadi nasabah IMF, Krisis ekonomi selalu muncul setiap beberapa tahun di Pakistan, yang disebabkan oleh ekonomi yang tidak menghasilkan cukup dan menghabiskan terlalu banyak, sehingga bergantung pada utang luar negeri. Setiap krisis berturut-turut menjadi lebih buruk karena tagihan hutang semakin besar dan pembayaran jatuh tempo.

Selain itu, ketidakstabilan politik internal dan bencana banjir memperburuk krisis kali ini. Ada juga elemen eksternal yang signifikan dalam krisis, dengan kenaikan harga pangan dan bahan bakar global setelah perang Rusia di Ukraina.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*