OPEC Biang Kerok, Harga Minyak Mentah Mendidih Pekan Ini

FILE PHOTO: A maze of crude oil pipes and valves is pictured during a tour by the Department of Energy at the Strategic Petroleum Reserve in Freeport, Texas, U.S. June 9, 2016.  REUTERS/Richard Carson/File Photo

Harga minyak mentah dunia mencatatkan kinerja cemerlang pekan ini.Rencana pemangkasan produksi dari negara eksportir minyak (OPEC)+ menjadi 1,16 juta barel per hari turut mewarnai pergerakan harga minyak pekan ini.

Dalam sepekan, harga minyak kontrak jenis Brent terpantau melesat 6,71% secara point-to-point (ptp) ke US$ 85,12 per barel. Dengan ini koreksi terpangkas menjadi 0,92% secara tahunan. Sepanjang pekan ini, minyak jenis Brent ini tercatat tidak pernah mengalami koreksi.

Sedangkan untuk minyak kontrak jenis light sweet atau West Texas Intermediate (WTI) terpantau turut melesat 6,65% ke US$ 80,70 per barel. Ini juga membawa harganya menguat 0,55% dalam setahun terakhir.

Dalam sepekan, minyak jenis WTI tercatat hanya sekali terkoreksi 0,12% pada perdagangan Rabu (5/5/2023). Dengan ini, patokan Brent telah berayun dalam kisaran US$ 80- US$ 90 per barel selama enam minggu terakhir, sementara WTI berkisar antara US$ 72 dan US$ 83 sejak Desember.

Harga minyak mentah dunia terpantau mengalami lonjakan akhir-akhir ini dipicu oleh rencana pemangkasan produksi dari negara eksportir minyak (OPEC)+.

Kenaikan harga minyak ini terjadi setelah OPEC+ berencana memangkas produksi minyak mentahlebih lanjut sekitar 1,16 juta barel per hari.

Total volume pemotongan oleh OPEC+, kelompok organisasi negara eksportir minyak dengan Rusia dan sekutu lainnya, menjadi 3,66 juta barel per hari menurut perhitungan. Jumlah tersebut setara dengan 3,7% dari permintaan global.

Pemangkasan terbanyak dilakukan Arab Saudi yakni 500 ribu bpd di Arab Saudi, pemotongan 211 ribu barel/hari oleh Irak, 144 ribu bpd oleh Uni Emirat Arab, dan 128 ribu bpd dari Kuwait.

Pemangkasan OPEC di luar pemotongan produksi yang dilakukan Rusia 500.000 barel per hari hingga akhir tahun. Rusia memangkas produksi sebagai bentuk”balasan” ke sanksi Barat karena persoalan Ukraina.

Goldman Sachs menurunkan perkiraan produksi OPEC+ pada akhir tahun 2023 sebesar 1,1 juta bpd dan menaikkan perkiraan harga Brent untuk tahun 2023 sebesar US$5 menjadi US$95 per barel dan sebesar US$3 menjadi US$100 per barel untuk tahun 2024.

“OPEC+ memiliki kekuatan penetapan harga yang sangat signifikan dibandingkan dengan masa lalu, dan pemotongan kejutan hari ini konsisten dengan doktrin baru mereka untuk bertindak lebih dulu,” kata bank tersebut.

“Meskipun mengejutkan, pemotongan ini mencerminkan pertimbangan ekonomi dan kemungkinan politik yang penting.” imbuhnya.

Harga minyak yang menguat dapat menguntungkan emiten produsen minyak. Namun secara keseluruhan dapat memberikan efek negatif yakni kenaikan inflasi.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*