REKAM Jejak Demokrat:Konflik SBY vs Megawati dan Hampir 10 Tahun Oposisi, Kini Gabung Koalisi Jokowi

Beginilah rekam jejak Demokrat. Setelah hampir 10 tahun oposisi, kini gabung koalisi Jokowi.

Partai Demokrat akhirnya bergabung ke pemerintahan Presiden Joko Widodo di sisa masa jabatan Kabinet Indonesia Maju yang tinggal delapan bulan lagi.

Ini ditandai dengan penunjukan Ketua Umum Partai Demokrat, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), sebagai Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN).

AHY dilantik sebagai Menteri ATR/BPN oleh Jokowi di Istana Negara, Jakarta, Rabu (21/2/2024).

Butuh waktu lebih dari sembilan tahun untuk Demokrat akhirnya bergabung dengan pemerintah yang berkuasa. Sebab, sejak 2014, partai bintang mercy itu memilih menjadi oposisi.

Sedianya, Demokrat sempat beberapa kali hendak bergabung ke gerbong Jokowi.

Namun, upaya tersebut terhalang sejarah politik dua petinggi partai, antara Ketua Majelis Tinggi Partai Demokrat, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), dengan Ketua Umum PDI Perjuangan, Megawati Soekarnoputri.

Bukan sebuah rahasia bahwa dalam dua dekade terakhir terjadi perang dingin antara SBY dengan Megawati.

Kabarnya, ketegangan antara keduanya bermula dari rivalitas politik jelang Pemilu 2004.

Sebelum bersaing di pilpres, SBY merupakan Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan (Menko Polkam) di Kabinet Gotong Royong pimpinan Megawati-Hamzah Haz.

Namun, secara mengejutkan, SBY yang berpasangan dengan Jusuf Kalla berhasil memenangkan Pilpres 2004, mengalahkan Megawati-Hasyim Muzadi dengan perolehan suara 60,62 persen berbanding 39,38 persen.

Megawati pun mau tak mau menyerahkan tongkat kepemimpinannya ke SBY.

Sejak saat itu hingga 10 tahun lamanya, Megawati dan PDI-P berada di luar pemerintahan sebagai oposisi.

Menurut penuturan politikus senior PDI-P, Panda Nababan, Megawati sempat berupaya memperbaiki hubungan dengan SBY, namun menemui jalan buntu.

Panda berkisah, pada 2005 silam, ketika SBY belum genap setahun berkuasa, Mega menugaskan dirinya menemui SBY.

Sebab, orang yang sebelumnya diutus SBY untuk menghadap Mega tak berhasil mempertemukan kedua elite. Kepada Panda, Megawati menitipkan lima pertanyaan untuk disampaikan ke SBY.

Salah satu pertanyaannya, apakah SBY pernah mengatakan keinginannya menjadi wakil presiden pendamping Megawati.

Kedua, Megawati bertanya, apakah SBY menggunakan kantor Polkam saat itu untuk membentuk Partai Demokrat.

Ketiga, Mega menanyakan, apakah SBY ingat pernyataannya dalam sidang kabinet yang mengaku tak akan mencalonkan diri sebagai presiden pada Pemilu 2004.

Megawati bilang, jika saja lima pertanyaan itu mendapat jawaban, dirinya bersedia bertemu langsung dengan SBY. Mega, kata Panda, hanya mengharapkan keterbukaan SBY.

Namun demikian, Panda menyebut, tak satu pun pertanyaan titipan Mega tersebut dijawab oleh SBY.

Bermula dari sinilah, hubungan Mega dan SBY renggang.

“Waktu saya ajukan lima pertanyaan itu, lima itu tidak ada dijawab itu sampai sekarang. Itu terus terang saja menjadi bom waktu, 18 tahun mereka tidak pernah duduk bersama kongko-kongko atau ngobrol,” ungkap Panda dalam program Kompas Petang Kompas TV, Selasa (20/6/2023).

Keretakan hubungan Megawati dan SBY terus berlanjut hingga PDI-P berhasil memenangkan Pemilu 2014 dan mengantarkan Jokowi-Jusuf Kalla ke kursi Presiden dan Wakil presiden RI.

Sekira sebulan sebelum Jokowi-JK dilantik, SBY sempat mencurahkan keluh kesahnya karena gagal menemui Megawati.

Saat itu, 30 September 2014, SBY hanya bertemu dengan Jokowi.

“Pertemuan dengan Pak Jokowi berlangsung baik. Ketika PDI-P inginkan kebersamaan di DPR saya sampaikan pertemuan SBY-Mega penting,” cuit SBY melalui akun Twitter resminya, @SBYudhoyono kala itu.

“Saya mendengar nanti pada saatnya Bu Mega akan ‘menerima’ saya,” tulis dia lagi.

Namun, kala itu, politikus senior PDI-P Pramono Anung mengeklaim, pertemuan kedua elite gagal karena SBY menolak menerima utusan Megawati, yakni Jokowi, Jusuf Kalla, Puan Maharani, dan Ketua Umum Partai Nasdem Surya Paloh.

Di tengah hubungan Megawati dan SBY yang tak harmonis, Demokrat sempat hendak bergabung ke gerbong politik pengusung Jokowi pada Pilpres 2019.

Setahun sebelum pendaftaran Pilpres 2019, SBY yang kala itu masih menjabat sebagai Ketua Umum Partai Demokrat, berulang kali bertemu dengan Jokowi.

Bahkan, SBY bilang, komunikasi untuk penjajakan koalisi Demokrat dengan Jokowi sudah berlangsung sejak 2014.

Namun, SBY menyebut bahwa wacana koalisi Demokrat dengan Jokowi menemui banyak kendala. Namun, kala itu, ia tak memerinci kendala yang dimaksud.

“Saya menjalin komunikasi dengan Pak Jokowi hampir satu tahun untuk menjajaki kemungkinan kebersamaan dalam pemerintahan. Pak Jokowi juga berharap Demokrat di dalam. Tapi kami menyadari banyak rintangan dan hambatan,” kata SBY dalam jumpa pers di kediamannya, 24 Juli 2018.

“Apabila iklimnya baik, kesediaannya untuk saling berkoalisi juga ada, ada mutual trust, respect. Itu yang jadi hambatan sekarang ini,” ucap SBY.

Akhirnya, wacana koalisi Demokrat dengan Jokowi pun bubar jalan.

Demokrat merapat ke kubu calon presiden dan calon wakil presiden (capres-cawapres) Prabowo Subianto-Sandiaga Uno.

SBY mengakui bahwa alasan partainya tak bergabung dengan koalisi pendukung Jokowi karena hubungannya dengan Megawati belum pulih.

“Masih ada jarak. Masih ada hambatan di situ. Saya harus jujur, belum pulih, masih ada jarak,” ucap SBY dalam konferensi pers 25 Juli 2018.

Padahal, kata SBY, Jokowi kala itu dengan tangan terbuka menerima Demokrat jika ingin bergabung mendukung pencapresannya.

“Saya selalu bertanya, ‘Apakah kalau Demokrat ada dalam koalisi, partai-partai koalisi itu bisa terima kami?’. ‘Ya bisa, karena presidennya saya’,” tutur SBY menirukan percakapannya dengan Jokowi.

Upaya perbaikan hubungan SBY dengan Megawati sudah dilakukan selama 10 tahun terakhir, bahkan dengan bantuan mendiang Taufik Kiemas, suami Megawati.

Meski begitu, upaya tersebut belum juga membuahkan hasil.

“Bukannya tidak ada kehendak, tapi Allah belum menakdirkan. Tuhan Yang Maha Esa belum menakdirkan hubungan kami kembali normal,” kata SBY.

Pasca Pilpres 2019, kabar merapatnya Demokrat ke koalisi Jokowi-Ma’ruf Amin sempat mencuat.

SBY dan Jokowi kembali bertemu di Istana Merdeka, Jakarta, 10 September 2019 atau sekitar sebulan sebelum pelantikan Jokowi-Ma’ruf.

Jokowi mengakui bahwa pertemuannya dengan SBY membahas peluang Demokrat bergabung ke kabinet. Kendati demikian, belum ada keputusan yang diambil.

“Kita bicara itu tapi belum sampai sebuah keputusan,” kata Jokowi, 10 September 2019.

Meski berulang kali bertemu dengan Jokowi, pada akhirnya, tak ada satu pun kader Demokrat yang ditunjuk sebagai menteri Kabinet Indonesia Maju.

Lebih dari empat tahun periode kedua pemerintahan Jokowi, Demokrat mengambil sikap oposisi dan rajin mengkritik pemerintahan.

Setelah 9 tahun 4 bulan lamanya, pada 21 Februari 2024, Demokrat akhirnya merapat ke pemerintahan, menempatkan ketua umumnya, AHY, sebagai pembantu Presiden.

AHY bilang, dengan masuknya dia sebagai menteri Kabinet Indonesia Maju, Demokrat resmi kembali ke jajaran pemerintahan.

“Demokrat secara resmi hari ini kembali ke pemerintahan. Mengakhiri semua perjalanan kami selama ini,” kata AHY usai pelantikan.

AHY menyebut, dirinya telah mengantongi restu dari sang ayah, SBY, untuk bergabung ke pemerintahan Jokowi. SBY bahkan mengaku bersyukur.

“Beliau tentunya juga bersyukur karena ini menjadi sebuah momentum Partai Demokrat kembali ke pemerintahan,” ujar AHY.

“Banyak yang mungkin belum menyadari Demokrat selama 9 tahun 4 bulan berada di luar pemerintahan. Dan ini sebuah momentum bersejarah karena alhamdulilah apa yang kami perjuangkan selama ini bisa lebih direalisasikan jika Demokrat bergabung di pemerintahan secara langsung,” jelasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*