Sritex Mulai Karam Ditelan Utang

Pabrik Sritex (Bloomberg via Getty Images/Bloomberg)

  • Sritex memiliki ekuitas negatif akibat jumlah utang yang lebih besar dari aset. Ini sangat berisiko bagi perusahaan karena semakin dekat dengan kebangkrutan.
  • Jumlah utang bank dan obligasi yang memiliki bunga menguasai 85% lebih dari total liabilitas. Ini berisiko bagi perusahaan karena harus membayar bunga dan dapat mengurangi kinerja profitabilitas.
  • Karena utang yang menggunung, Sritex hingga saat ini disusspen perdagangannya dan terancam delisting.

PT Sri Rejeki Isman atau Sritex yang tenggelam mulai karam karena terbentur gunung utang. Utang menumpuk, perdagangan saham dihentikan, terancam delisting pula.

Hingga September 2022, total liabilitas SRIL tercatat US$1,6 miliar atau setara dengan Rp24,66 triliun (kurs=Rp15.500/US$). Jumlah tersebut didominasi oleh utang-utang yang memiliki bunga seperti utang bank dan obligasi.

Secara rinci utang bank dan obligasi yang dimiliki oleh Sritex adalah sebagai berikut:

– Utang bank jangka pendek senilai US$32,8 juta atau Rp508,47 miliar,

– Utang bank dan obligasi dengan jatuh tempo kurang setahun senilai US$4,05 juta atau Rp62,774 miliar,

– Utang bank dan obligasi jangka panjang senilai US$1,33 miliar atau Rp20,57 triliun.

– Total utang bank dan obligasi adalah US$1,36 miliar atau Rp21,14 triliun.

Jumlah tersebut sama dengan 85,75% dari total liabilitas yang dimiliki per September 2022. Di aman utang didominasi dengan masa jatuh tempo jangka panjang. Utang jangka panjang adalah utang mahal sebab harus bayar jangka waktu yang lebih lama.

Perlu dicatat utang bank dan obligasi mengakibatkan ada bunga yang harus di bayar selain pokok pinjaman. Implikasinya adalah beban bunga akan menggerus pendapatan sehingga membuat kinerja profitabilitas menjadi buruk.

Menurut laporan keuangan Sritex, utang bank dan obligasi terdapat tiga alokasi Secured Working Capital Revolver (SWCR), Secured Term Loan (STL), dan Unsecured Term Loan (UTL) berdasarkan putusan PKPU dengan jatuh tempo maksimal 12 tahun.

Utang yang gendut membuat Sritex mengalami “obesitas”. Jumlah utang bank dan obligasi yang dimiliki lebih tinggi dari aset yang dimiliki sehingga mengalami defisit modal.

Defisit modal biasa juga disebut sebagai ekuitas negatif. Emiten yang memiliki ekuitas negatif akan berbahaya bagi investor karena sebagai tanda bahwa perusahaan semakin dekat dengan kebangkrutan.

Jumlah aset yang dimiliki adalah US$1,04 miliar atau Rp16,17 triliun. Jika dibandingkan dengan total utang bank dan obligasi maka terdapat defisit modal sebesar US$320,82 juta atau setara dengan Rp4,97 triliun.

Jika total aset tersebut dibandingkan dengan jumlah liabilitas maka terjadi defisit modal sebesar Rp8,49 triliun.

Logika sederhana, misalnya perusahaan tersebut membutuhkan likuiditas segera demi membayar utang jatuh tempo. Saat kas tidak mencukupi hal yang bisa dilakukan adalah jual aset.

Nah. dengan kondisi ekuitas negatif, jual aset pun masih tidak mampu menolong perusahaan dari jeratan utang yang terlalu besar dan membutuhkan likuiditas segera.

Selain ekuitas negatif terdapat indikator lainnya yang makin menegaskan kondisi Sritex tidak sehat, yakni rasio likuiditas dan rasio solvensi.

Quick ratio yang mengukur kemampuan perusahaan untuk memenuhi kewajiban jangka pendeknya dengan aset yang paling likuid berada di bawah poin 1 atau 100%.

Ini berarti jumlah aset yang paling likuid tidak cukup untuk membayar utang jangka pendek.

Padahal utang jangka pendek adalah yang paling berisiko dibandingkan dengan utang jangka panjang dalam struktur modal. Sebab harus segera dilunasi, jika tidak mampu dibayar maka perusahaan akan dihadapkan dengan pilihan yang sulit yakni melikuidasi aset (jika cukup) atau melakukan refinancing atau pailit.

Kemudian tingkat utang berbunga seperti bank dan obligasi dibandingkan aset (debt assets ratio) yang sebesar 136,6%, di atas batas aman 100%.

Bagaimana dengan debt equity ratio (DER) yang juga umum digunakan untuk mengukur kesehatan perusahaan? Tentu saja tidak bisa dihitung dan digunakan sebab membukukan ekuitas negatif.

Sampai saat ini pun saham Sritex yang berkode SRIL masih digembok oleh Bursa efek Indonesia sejak 18 Mei 2021. Masa suspensi SRIL akan mencapai 24 bulan pada tanggal 18 Mei 2023, sehingga berpotensi delisting alias didepak dari bursa.

BEI menyebut, bursa dapat menghapus pencatatan saham perusahaan tercatat apabila mengalami kondisi, atau peristiwa, yang secara signifikan berpengaruh negatif terhadap kelangsungan usaha, baik secara finansial atau secara hukum.

Juga, terhadap kelangsungan status sebagai perusahaan terbuka, dan tidak dapat menunjukkan indikasi pemulihan yang memadai.

Miris nasib Sritex sekarang, dahulu disanjung karena bahan dan kualitas pakaiannya. Bahkan produknya diminati untuk seragam militer di berbagai benua. Segmen pasarnya pun mayoritas di luar negeri.

Sayangnya pandemi Covid-19 pada 2020 membuat bisnis Sritex babak belur. Pada 2021, Sritex mencatatkan rugi bersih sampai Rp1,08 miliar atau Rp16,76 triliun. Padahal dalam sepuluh tahun sebelumnya mencatatkan pertumbuhan laba rata-rata 18,5% per tahun (CAGR).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*