Wow! Malaysia Hingga China Sudah Tinggalkan Visa & Mastercard

This Aug. 11, 2019 file photo shows credit cards in New Orleans. U.S. consumer borrowing plunged in April as households fretted about the disruptions caused by the coronavirus pandemic and cut back on their use of credit. The Federal Reserve reported Friday, June 5, 2020 that total borrowing fell by $68.8 billion, or 19.6%. That was the biggest one-month decline in percentage terms since the end of World War II. (AP Photo/Jenny Kane, file)

Bank Indonesia (BI) akan merilis layanan kartu kredit domestik pada April 2023. Layanan ini akan memberikan opsi lebih banyak bagi penerbit kartu kredit di dalam negeri sehingga tidak lagi perlu bergantung pada prinsipal asing seperti Visa dan Mastercard.

Namun, ternyata negara-negara tetangga Indonesia sudah lebih dulu memiliki layanan itu, diantaranya Malaysian Electronic Payment System (MEPS), Union Pay (China), hingga Network for Electronic Transfers (NETS) milik Singapura, hingga Japan Credit Bureau (JCB).

Direktur Eksekutif Departemen komunikasi BI Erwin Haryono mengatakan dengan keberadaan layanan prinsipal kartu kredit itu di negara lain, maka tidak ada alasan bagi Indonesia untuk memiliki layanan kartu kredit domestik. Layanan ini akan serupa Gerbang Pembayaran Nasional (GPN).

“Saya kira itu Indonesia enggak sendirian, Jepang punya juga semacam itu, China juga punya semacam itu, sekarang kita bilang ya kenapa Indonesia enggak,” ujar Erwin saat ditemui di Yogyakarta, seperti dikutip Senin (20/3/2023).

Berkaca pada layanan kartu kredit domestik yang telah dimiliki berbagai negara itu, ternyata masyarakatnya dapat menikmati biaya yang lebih murah saat bertransaksi. Sebab, proses penyelesaian transaksinya tak lagi perlu menyetor uang ke prinsipal asing yang diperkirakan sebesar US$ 2 miliar per tahun.

MEPS misalnya, dibuat untuk mengurangi biaya akibat menggunakan kartu berlogo asing seperti visa dan Mastercard. Dari sisi biaya, MEPS hanya mengenakan biaya sekitar RM 0,53 lebih rendah hingga 80% dari biaya pada umumnya yang mencapai RM1-4.

Biaya yang lebih murah, membuat bank-bank di Malaysia tergabung dengan sistem pembayaran ini. Di sisi lain, nasabah pun jauh lebih murah mengeluarkan biaya dari setiap transaksi yang dilakukan.

Demikian juga dengan keberadaan Union Pay di China, biaya transaksi bagi penggunanya menjadi gratis. Jika Anda berbelanja di merchant yang terintegrasi menggunakan kartu berlogo ini, maka anda tidak dikenakan biaya sama sekali.

Saat melakukan penarikan uang tunai di ATM baik di dalam maupun luar negeri juga berlaku hal yang sama. Union Pay tidak mengenakan biaya sama sekali. Hal ini tentu menjadi keuntungan tersendiri bagi masyarakat yang memilikinya.

Sedangkan kehadiran NETS di Singapura dapat membantu nasabah yang akan melakukan aktivitas transportasi, makan, berbelanja hingga membayar tagihan.

Jika masyarakat ingin berbelanja online dengan menggunakan NETS, maka hanya dikenakan fee sekitar 0,80%. Sementara jika ingin berbelanja di supermarket juga hanya dikenakan fee yang sama. Biaya ini tentu jauh lebih murah dibandingkan berbelanja dengan kartu yang berlogo Visa dan Mastercard masing-masing sebesar 2-3%.

Erwin memastikan, dengan keberadaan kartu kredit domestik di dalam negeri nantinya, biaya transaksi juga akan lebih murah karena ongkos settlement, keamanan data, hingga layanan verifikasinya tak lagi perlu menggunakan biaya tambahan untuk disetorkan ke prinsipal internasional itu.

“Isunya bukan hanya aja ada margin keuntungan, dan dengan demikian ada bisnis yang bisa ditarik ke domestik, bukan itu saja, tapi itu juga isu keamanan tadi itu, isu keamanan di dalam kondisi yang sangat tidak memungkinkan, dalam kondisi kritis, ketergantungannya itu tidak begitu besar,” ucap Erwin.

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*